Search This Blog

Monday, March 20, 2017

Cerpen Seorang Gadis di Jembatan Merah





Penulis: Havidz Antonio



Sudah larut malam, sekitar jam setengah satu. Jalanan sepi dan lengang. Tinggal segelintir orang yang masih terjaga. Itupun cuma bapak-bapak yang asyik ngobrol ngalor-ngidul sambil main catur di warung-warung kopi pinggir jalan. Sementara lampu-lampu kota masih berkelap-kelip megah, menghiasi malam yang dingin.

Seperti biasa, jam segini Arya baru pulang dari siaran. Pria dua puluh empat tahun itu berprofesi sebagai seorang penyiar radio yang cukup terkenal di kota Jepara. Jam kerjanya sampai selarut ini kalau malam Selasa dan Minggu. Baginya, menjadi seorang penyiar radio profesi yang sangat menyenangkan dan menguntungkan. Di samping nilai komersilnya yang bisa untuk menambah uang kuliah, dia juga mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan. Terutama di bidang musik dan ertentaint.

Biasanya, jika pulang dari siaran, Arya lebih suka melewati jembatan merah. Walau dia bisa saja lewat tengah kota, lebih aman. Hanya saya lewat jalur jembatan merah lebih cepat sampai ke kostnya.

Jembatan itu di namakan jembatan merah karena memang warna jembatannya merah. Panjangnya tidak seberapa dan lebarnya bahkan tidak muat di lewati dua motor bersimpangan. Jadi harus bergantian kalau mau lewat. Sedangkan di bawah jembatan merah itu, sebuah sungai yang airnya tidak jernih juga tidak terlalu keruh. Sekarang mana ada sih, sungai di perkotaan yang airnya betul-betul jernih?

Saat mau melewati jembatan merah itu, Arya melihat sesosok manusia di ujung jembatan sebelah selatan. Karena panjang jembatan yang tidak terlalu panjang, Arya bisa melihat kalau sosok itu seorang gadis. Segala pikiran berkecamuk di benak Arya. Mulai dari hantu kuntil anak sampai gadis yang mau mencoba bunuh diri. Lekas Arya menyeberang.

Di dorong oleh perasaan ingin tahu, Arya turun dari motornya. Sesaat dia memerhatikan gadis itu. Wajahnya tampak kuyuh. Tatapannya sedih menuju ke arah air sungai yang berkilau di terpa sinar rembulan. Maka pikirannya tentang seorang gadis yang mau bunuh diri semakin kuat. Arya memberanikan diri untuk mendekati gadis itu.

“Sendirian Mbak?” Arya menyapa bersahabat. Gadis itu mengangguk sekali.

 Arya terdiam beberapa saat. Dia memikirkan apa yang harus ia lakukan. Sangat tak lazim, seorang gadis cantik duduk sendirian di pinggir sungai?

“Boleh ikut duduk di sini?”

Gadis itu hanya mengangguk sekali lagi tanpa mengalihkan perhatiannya.

“Larut malam begini sendirian, Apa tidak takut?” tanya Arya.

“Takut dari apa?” kata gadis itu tanpa mengalihkan perhatiannya.

“Hantu mungkin?” jawab Arya ngasal.

“Nggak,” kata gadis itu, masih tanpa mengalihkan perhatiannya.

Arya tidak tahu mesti ngapain. Mungkin lebih baik ia pergi saja. Tapi sisi ingin tahunya menggelitik.

“Ngapain sendirian di sini, Mbak?”

“Duduk.”

Jawaban yang padat.

“Kita belum kenalan. Boleh kenalan?” ucap Arya. “Aku, Arya. Mbak ini siapa?”

“Nila.”  jawab gadis itu tetap tanpa mengalihkan perhatiannya.

“Nila.” gumam Arya “Indah sekali namamu, Mbak.”

Gadis itu entah karena mendengar ucapan Arya barusan atau karena apa, tersenyum.

“Ya. tapi sebagian orang nggak berpendapat kayak gitu,” gadis bernama Nila itu berkata tapi seperti tidak menganggap kehadiran Arya. Dia masih tetap menatap air sungai tanpa memerhatikan Arya.

“Kenapa sebagian orang tidak menganggap gitu?” tanya Arya ingin tahu.

Tidak ada sahutan.

Arya akhirnya mencari bahan perbincangan lain.

“Ngomong-ngomong sedang apa kamu di sini, Mbak?”

“Aku akan bunuh diri dengan lompat dari jembatan ini,” kata Nila sungguh-sungguh. Arya kaget mendengarnya, seperti dugaannya tadi. Namun Arya berusaha setenang mungkin.

“Mengapa kamu ingin bunuh diri, Mbak? Dosa, lho ”

Akhirnya Nila mengalihkan perhatiannya ke Arya. Arya kini bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas. Cantik. Namun pucat. Mungkin gadis ini terlalu banyak bersedih dan menangis, batin Arya. Terlihat sekali dari wajahnya tidak memancarkan gairah hidup. Meskipun sinar rembulan yang keemasan memantul di wajahnya.

“Kenapa aku harus cerita sama kamu?” Nila balik bertanya.

“Mungkin mulai sekarang kita bisa berteman,” Arya mencari alasan. Dia tidak menyangka alasan itu ternyata berhasil.

“Baiklah, aku akan menceritakannya kepadamu,”  kata Nila.

---0---

            “Al? Bagaimana kalau aku hamil ?”

“Aku akan bertangung jawab,” kata Aldo meyakinkan Nila. Keraguan Nila akan kata-kata Aldo perlahan musnah saat tatapan pria itu menyentuh relung hatinya. Lagian, pria yang sangat dicintainya itu memang tak pernah membohonginya.

Namun setelah kejadian malam itu di kamar hotel. Nila jarang bertemu Aldo. Aldo seperti menghindarinya. Tentu saja Nila sangat khawatir apalagi dia positif hamil. Semakin hari perutnya semakin membesar. Dia tentu saja tidak bisa tinggal dengan keluarganya. Kecuali, jika dia mengharap keluarganya mengetahui keadaanya dan pasti akan sangat kecewa kepadanya. Nila sama sekali tidak mengharapkan itu. Maka, untuk sementara Nila tinggal di kostnya Erna, sahabat yang setia membantunya.

Aldo telah menghilang. Entah kemana tidak ada yang tahu. Nila bertanya kesana-kesini. Mencari kesana-kesini. Tidak ada yang tahu keberadaan pria itu. Teman-teman Aldo pun tidak ada yang tahu. Maka satu-satunya harapan Nila adalah keluarga Aldo. Tetapi Nila sendiri tidak tahu di mana keluarga Aldo tinggal.

“Ya, Tuhan apa yang harus aku lakukan.”  Nila tak ubah seorang gadis yang kehilangan aral. Beruntung salah seorang teman Aldo iba melihat penderitaan Nila. Dia memang dibungkam Aldo dengan uang agar diam, namun hati nuraninya telah terketuk. Dia memberi tahu alamat rumah  Aldo, di Jakarta.

Namun apa yang didapat Nila dari keluarga Aldo? Bukan sebuah perlindungan seperti bayangannya.  Malah suatu cercaan. Bahkan mereka menyuruh Nila menggugurkan saja kandungannya. Mereka akan memberi banyak uang jika Nila mau melakukannya. Tentu saja, Nila tidak mau melakukan itu. Bagaimanapun juga, bayi dalam kandungnya itu adalah darah dagingnya.

Sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh jua. Entah siapa yang memberi tahu, keluarga Nila telah mengetahui keadaan Nila yang sesungguhnya. Nila di paksa pulang dari kostnya Erna. Sesampainya di rumah Nila di kurung, tidak boleh keluar. Sekarang dia adalah aib keluarga yang harus disembunyikan, menjijkan.

Nila sangat menderita. Dia mengandung dengan tekanan batin yang menyiksa. Mungkin karena itulah yang menyebabkan ia keguguran. Nila sangat terpukul sampai-sampai kesadaran jiwanya terganggu. Berulang kali dia mencoba bunuh diri tapi selalu bisa digagalkan.

---0---

Nila mengusap air mata yang membasahi pipinya seusai menceritakan kisah pahit hidupnya kepada Arya.

“Sekarang aku mau mati. Kuharap kamu tidak mencegahku seperti yang lainnya. Bukankah sekarang kamu temanku. Sebagai teman yang baik kamu harus membiarkan aku  memperoleh apa yang aku inginkan,” kata Nila lirih. Arya bergeming di tempatnya.

“Aku tidak akan mencegahmu,” kata arya

“Kamu sungguh teman baik,” kata Nila

“Tapi pikirkan lagi, bunuh diri bukan solusi yang baik.”

Tapi perkataan Arya seperti tak penah terdengar. Tiba-tiba, Nila beranjak dari duduknya. Rupanya, ia siap terjun ke sungai. Arya segera menambil inisiaf. Saat Nila akan meloncat, Arya segera memeganginya.

 “Lepaskan aku. Kumohon. Aku ingin mati.”

“Jangan melakukan hal bodoh, Mbak.”

“Kamu yang bodoh. Cepat lepaskan aku.”

“Dengarkan aku, Mbak. Hidup harus tetap berlanjut. Apapun yang terjadi. Hidup adalah anu...”

“Aku tidak peduli dengan kata-katamu itu,” potong Nila. “Sekarang lepaskan aku. Le-pas-kan.”

Arya makin panik. 

“Baik. Baiklah. Tapi nanti dulu. Lihat ! Disana ada mobil yang sedang menuju kemari. Aku tidak mau kamu melakukannya sekarang sementara aku masih disini, Mbak . Bisa-bisa aku yang di tuduh membunuhmu.” ujar Arya mencari cara menenangkan Nila.

“Aku tidak peduli. Lepaskan. Le-pas-kan…”

Yang di katakan Arya memang benar. Ada sebuah mobil yang sekarang berhenti di dekat mereka. Sebuah mobil ambulan. Dari dalam mobil keluar tiga orang berseragam putih khas petugas rumah sakt sakit. Salah satu dari ketiga orang itu berkata kepada Arya, “Tolong Mas jangan lepaskan gadis itu. Pegang dia terus.”

Sementara itu Nila semakin gila-gilaan memberontak. Arya kewalahan memeganginya.

“le-pas-kan!”

Kedua petugas rumah sakit ikut membantu Arya. Sementara petugas yang satunya mengambil sesuatu dari kotak berwarna putih. Entah apa yang di keluarkannya, Arya tidak sempat  melihatnya karena Nila sudah seperti orang kesetanan. Dan tiba-tiba Nila mulai lemas, sedikit demi sedikit mulai tertidir.

Arya bingung dengan Nila yang tiba-tiba berubah.

“Obat bius,” jelas salah satu petugas rumah sakit.

Perrlahan-lahan Nila mulai tak sadarkan diri. Dua di antara ketiga petugas rumah sakit itu membopong Nila ke dalam mobil ambulan. Petugas yang satunya paham sendiri sebelum Arya meminta penjelasan.

“Kami dari rumah sakit jiwa kusuma. Gadis tadi adalah pasien kami yang kabur malam ini. Sungguh kami berterimah kasih kepada anda. Memang sering sekali dia mencoba bunuh diri.”

“Oh…” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Arya.

“Kalau tidak ada yang perlu di jelaskan lagi kami mohon diri.”

Sebelum petugas rumah sakit itu pergi, Arya mengajukan sebuah pertanyaan yang dia sendiri ragu apakah perlu menanyakannya.

“Kalau boleh tahu siapa nama gadis itu?”
 
“Namanya Ani.”

“Bukannya namanya Nila ?”
 
Petugas rumah sakit itu tampak mengingat-ingat, “ Oh, Nila, itu nama yang sudah di siapkan untuk bayinya yang gugur saat masih dalam kandungan,” jelas petugas rumah sakit jiwa itu.




Thanks sudah membaca karya saya.
Jangan lupa tinggalkan Like dan Komennya.
Nuhun. 

Friday, March 17, 2017

Hitsu Aslan, Raksasa Orc dan Penyihir Tua

 

Oleh : Havidz Antonio
         
          Dahulu kala, ketika para penyihir, raksasa dan peri masih merajalela, hidup seorang petani bernama Hitsu Aslan. Dia tinggal bersama keluarganya di desa kecil bernama desa Ghuttah. Saban hari dia bekerja keras untuk menghidupi keluarganya, sejak matahari terbit hingga terbenam, membajak ladang, mencangkul, merawat pohon-tohon rosella di belakang rumah. Tangannya selalu kapalan saking seringnya memegang sabit, bahkan kerap berdarah.
Namun, bukan dia saja yang bekerja keras begitu. Kehidupan semua penduduk desanya memang berat. Desa Ghutta tidak seberuntung desa-desa lain yang memiliki pohon-pohon buah, bunga-bunga, tanah yang cocok untuk bertanam, udara yang sejuk dan air yang melimpah. Desa itu terletak di dataran berdebu yang di kelilingi bukit-bukit berbatu. Anginnya panas dan meniupkan debu-debu ke mata. Mencari air adalah perjuangan yang berat bagi penduduk desa. Cuma ada sumber mata air di danau yang airnya keruh setiap tahun dan untuk mengambilnya harus menempuh jarak selama dua jam.
Kendati begitu, Hitsu sudah merasa beruntung karena memiliki keluarga yang dia sayangi lebih dari segalanya. Dia mencintai istrinya dan kelima anaknya. Lebih-lebih anak-anaknya mempunyai akhlak yang mulia dan berkelakuan terhormat.
Meskipun menyayangi semua anaknya, diam-diam Hitsu paling menyayangi si bungsu, Isa, yang baru berumur tiga tahun. Isa bocah kecil bermata biru yang energik. Dia memikat semua orang dengan tawa jahilnya. Di saat anak-anak lain masih belajar merangkak, Isa sudah bisa berjalan, saat anak-anak yang lain masih belajar berjalan, dia sudah berlarian.
Ketika Hitsu pulang setelah seharian bekerja, Isa akan berlari dari dalam umah dan membenamkan wajah ke perut ayahnya. Seketika itu pula lelah di tubuh Hitsu memudar.
Sayangnya, hari-hari bahagia Hitsu harus berakhir.
Hal itu terjadi ketika pada suatu hari sesosok Orc mendatangi desa Ghuttah. Setiap langkahnya menimbulkan guncangan di tanah. Warga desa serta merta menjatuhkan sekop, cangkul, kapak-kapak, kuali yang di dalamnya sup buah labu mau matang dan berlari tunggang langgang. Mereka mengunci diri dan berpelukan di rumah masing-masing.
Semua orang di desa mengetahui alasan kedatangan sang Orc. Mereka telah mendengar cerita-cerita tentang kunjungannya ke desa-desa lain dan menduga-duga kenapa desa Ghuttah lolos dari perhatiannya. 
Barangkali, kesusahan dan kemiskinan di desa Ghuttah membantu, karena anak-anak mereka kurang makan dan berdaging tipis. Apapun itu keberuntungan mereka akhirnya sirna
Desa Ghuttah gemetar dan menahan napas. Keluarga masing-masing berdoa supaya rumah mereka terlewatkan oleh sang Orc. Karena jika sampai terdengar ketukan di atap rumah, berarti mereka harus menyerahkan seorang anak. Orc itu akan melemparkan anak itu ke dalam karung, lalu kembali ke tempatnya. Dan jika mereka menolak memberikan seorang anak, si Orc akan membawa semua anak di rumah itu, atau lebih buruknya mengambil semua anak di desa itu secara paksa.

Kemanakah sang Orc membawa anak-anak itu? Ke tempat tinggalnya tentu saja, sebuah kastil di atas sebuah gunung yang terjal yang jauh dari desa Ghuttah. Sejumlah lembah, beberapa gurun, dan bukit-bukit berbatu lancip harus di tempuh untuk mencapainya.
Dan naas, pintu atap Hitsu lah yang di ketok, seketika itu pula sang istri menangis pilu hingga jatuh pingsan. Anak-anaknya memekik ngeri, tahu kalau mereka akan kehilangan salah satu anggota keluarganya. Keluarga itu di beri waktu hingga esok fajar untuk mempersiapkan persembahannya.
Tidak ada orang tua yang sanggup mengambil pilihan semacam ini. Malam itu, di bawah remang-remang lampu petromak, Hitsu dan istrinya memperdebatkan keputusan apa yang akan mereka ambil. Mereka berbicara, menangis, berbicara lagi, menangis lagi, sepanjang malam hingga subuh belum ada keputusan. Akhirnya Arpha mengambil lima butir kelereng lalu menuliskan masing-masing nama anaknya, lalu memasukan kelereng itu ke dalam karung goni.
"Ambillah," kata Hitsu.
"Aku tak bisa melakukannya," pekik istri Hitsu pilu.
Dan ketika matahari mulai merekah, Hitsu mengambil keputusan. Nama siapa di kelereng yang di ambil Hitsu? Hati Hitsu menjerit, remuk redam, hancur bersama angin pagi desa Ghuttah yang berdebu. Dengan rasa bersalah yang tidak bisa digambarkan Hitsu menggendong Isa ke luar rumah. Isa belum menyadari apa yang dilakukan ayahnya. Baru setelah ayahnya meletakkannya di luar rumah dan menutup pintu, bocah kecil itu baru menyadari apa yang terjadi.
Isa mungil memukul-mukul pintu supaya ayahnya mengizinkannya masuk sambil menangis sejadi-jadinya. Hitsu hanya mampu bergumam, "Maafkan aku, maafkan aku," seiring langkah Orc yang menggemakan tanah.
--0--
Beberapa tahun telah berlalu. Kemarau panjang berlanjut, desa Ghuttah semakin terpuruk dan miskin. Beberapa bayi mati kehausan dalam gendongan. Sumur-sumur mendangkal, danau mulai mengering, namun amarah Hitsu kian hari kian meluap. Dia tidak berguna lagi bagi keluarganya. Dia tidak lagi bekerja, jarang makan dan hanya melamun. Istri dan anaknya senantiasa memohon tapi percuma saja. Keempat putranya yang tersisa mengambil alih pekerjaannya, karena saban hari Hitsu Aslan hanya duduk di tepi ladang seorang diri, melamun dan bergumam tak jelas.
Kemudian suatu hari Hitsu Aslan memutuskan untuk melakukan sesuatu. Dia bangun kala subuh tanpa membangunkan anak dan istrinya. Dia mengemas beberapa potong roti ke dalam karung goni, memakai sepatu kulit bututnya, mengikat sabitnya di pinggang dan berangkat.
Dia berjalan kaki selama berhari-hari. Dia berjalan hingga matahari menyisakan pendar merah samar di cakrawala. Pada malam hari, dia tidur di gua sementara angin bertiup kencang di luar. Dia memakan rotinya, lalu apapun yang di temukannya, dan ada kalanya tidak makan sama sekali.
Akhirnya, tibalah dia di gunung tempat kastil sang Orc. Dia begitu bersemangat untuk mengakhiri pencariannya, sehingga langsung mendaki tanpa beristrirahat terlebih dahulu. Bebatuan tajam mencabik-cabik telapak jakinya. Angin kencang nyaris menjatuhkannya dari punggung gunung hingga akhirnya dia tiba di depan gerbang kastil raksasa sang Orc.

"Siapa berani menantangku?" suara sang Orc membahana ketika Hitsu melempar sebutir batu ke gerbang kastil.
"Aku datang dari desa Ghuttah dan akan membunuhmu," ucap Hitsu Aslan.
Keheningan menyusul. Kemudian gerbang itu perlahan-lahan terbuka dan sang Orc menjulang di hadapan Hitsu Aslan.
"Benarkah itu?" suaranya menggelegar bagai gemuruh.
"Tentu," jawab Hitsu Aslan. "Bagaimanapun caranya, salah satu dari kita akan mati hari ini."
Sesaat, sang Orc seolah-olah hendak menyapu Hitsu Aslan dari tanah dan melahapnya. Namun sesuatu membuat makhluk itu ragu.
"Dari mana asalmu?"
"Desa Ghuttah," kata Hitsu Aslan. " Aku kesini tidak datang untuk berbasa-basi."
"Ya, ya, ya kau kesini untuk membunuhku kan?" sang Orc menyeringai. "Tapi apa salahku sehingga kau ingin membunuhku?"
"Kau mengambil putra bungsuku," jawab Hitsu Aslan geram. "Dialah yang paling kusayangi di dunia ini."
"Oh..." gumam sang Orc. "Aku lupa. Tapi harus ku akui soal keberanianmu membuatku kagum."
"Aku tak butuh pujianmu."
Sang Orc menggeram lagi dan menatap Hitsu Aslan lekat-lekat, "Baiklah... Kalau begitu... Aku bersedia duel denganmu, tapi pertama-tama aku memintamu untuk mengikutiku."
"Cepatlah.... Kesabaranku sudah ha..."
Belum usai Hitsu berucap, sang Orc tiba-tiba meledak, menghempaskan asap putih yang menggumpal-gumpal sampai-sampai Hitsu Aslan terbatuk-batuk. Setelah perlahan gumpalan asap putih itu memudar kini yang dilihat Hitsu Aslan bukanlah sesosok monster besar bernama Orc, melainkan seorang manusia tua berjubah putih, tangannya memegang tongkat berwarna emas, jenggotnya berwarna perak menjuntai sampai perut.
"Sebenarnya aku bukanlah Orc. Aku seorang penyihir bernama Zabadruz. Sekarang kau ikuti aku."
Penyihir itu berjalan menuju sebuah lorong raksasa, dan Hitsu Aslan tidak punya pilihan lain selain mengikutinya. Dia mengikuti sang penyihir melewati labirin yang langit-langitnya nyaris mencakar awan dan di sangga pilar-pilar besar. Mereka terus berjalan hingga akhirnya sang penyihir mempersilahkan Hitsu Aslan memasuki ruangan besar dengan tirai raksasa.
"Bukalah tirai itu."
Hitsu Aslan menyingkap tirai raksasa itu dengan susah payah. Ternyata di belakang tirai itu terdapat jendela kaca dan memperlihatkan sebuah taman hijau nan luas di dalamnya. Deretan pohon pinus memagari taman, hamparan bunga matahari seperti karpet, tampak pula kolam-kolam berubin biru, teras-teras berlantai marmer, terdapat air mancur di tengah kolam yang sangat indah. Hitsu Aslan tidak pernah membayangkan ada tempat seindah itu di dunia.
Namun yang membuat Hitsu Aslan jatuh berlutut adalah anak-anak yang berlarian dan bermain dengan gembira di taman itu. Hitsu Aslan mengedarkan pandangannya dan mendapati apa yang di carinya. Isa! Putranya, masih bernyawa dan segar bugar. Dia semakin tinggi dan berisi, dia mengenakan kemeja putih dan celana hitam, rapi.
"Isa. Anakku," Hitsu Aslan menjeritkan nama anaknya beberapa kali.
"Dia tidak bisa mendengarmu ataupun melihatmu," kata penyihir Zabadruz.
Hitsu Aslan melompat-lompat, melambai-lambai, berteriak-teriak hingga sang penyihir menutup tirai kembali.
"Aku tak mengerti," kata Hitsu Aslan "kupikir..."
"Ini imbalanmu," kata sang penyihir.
"Tolong jelaskan!" tuntut Hitsu Aslan.
"Aku memberimu ujian."
"Ujian?"
"Ujian kasih sayang. Andai jika kau dulu tak memilih maka semua anakmu akan mati waktu itu juga, mereka akan tahu kalau mereka memiliki ayah yang pengecut."
"Anakmu sudah tak mengingatmu lagi sekarang," lanjut penyihir sang penyihir. Hitsu Aslan dengan lemas mengangkat sabitnya namun benda itu terlepas dari tangannya. Lututnya gemetar, dia terduduk.
"Aku menghormatimu karena keberanianmu, beban yang kau tanggung di bahumu," kata sang penyihir. "Inilah kehidupan anakmu sekarang. Di sini dia bahagia, memperoleh makanan dan pakaian yang terbaik. Dia menerima pendidikan yang terbaik. Kelak dia akan menjadi orang yang berguna bagi banyak orang."
"Aku ingin menemuinya," ujar Hitsu Aslan. "Aku ingin membawanya pulang."
"Yakin?"
Hitsu menatap sang penyihir.
"Aku akan mengizinkanmu membawanya pulang," kata sang penyihir lalu mengeluarkan jam pasir dan membaliknya. "Jika itu yang kau pilih. Pikirkan lagi. Aku beri waktu kau hingga jam pasir ini selesai. Namun jika kau mengambilnya kau tidak bisa kesini lagi."
Aku akan membawanya pulang, pikir Hitsu. Ini adalah hal yang paling di inginkannya, bersama setiap tarikan napasnya. Namun Hitsutersadar, jika dia membawanya pulang, kehidupan macam apa yang menanti Isa di desa Ghuttah? Sebaik-baiknya adalah kehidupan keras kaum petani, seperti yang di jalaninya, tidak lebih. Itupun jika Isa tidak meninggal akibat kekeringan seperti begitu banyak bocah di desa. 
Jika begitu bisakah kau memaafkan dirimu sendiri, Hitsu Aslan terisak, di puncak kesedihannya dia menemukan jawabannya.
Sang penyihir kembali dan mendapati Hitsu Aslan yang terisak dengan tubuh gemetar.
"Kau monster kejam."
"Jika kau sudah hidup selama aku, kau akan mengerti bahwa kekejaman dan kemuliaan hanya di pisahkan benang tipis. Sudahkah kau menetapkan pilihan?"
Hitsu Aslan mengusap air matanya, memungut sabitnya dan menyelipkannya ke pinggang. Perlahan-lahan, dia berjalan ke pintu, kepalanya menunduk.
"Kau ayah yang baik," kata sang penyihir, "Bawa ini"
Sang penyihir memberikan botol kecil berisi cairan putih. "Minum ini di perjalanan kau pulang."
Hitsu Aslan menerimanya tanpa sepatah katapun.
--0--
Musim semi itu, langit gelap di atas desa Ghuttah akhirnya merekah, awan hitam menggebyurkan hujan lebat. Seluruh penduduk desa menuntaskan dahaganya. Bunga-bunga liar mulai bermekaran seakan telah terjadi keajaiban. Perbukitan mulai menghijau. Sungai-sungai yang kering mulai muncul sumber air. Ikan-ikan kecil bermunculan entah dari mana.
Setelah itu kadang seminggu dua kali hujan turun. Hitsu Aslan bersama penduduk desa Ghuttah tak henti-hentinya mengucap syukur.
Dulu ketika Hitsu Aslan sampai di rumah sehabis petualannya ke Kastil sang Orc, Hitsu Aslan seakan menjadi orang yang baru, orang yang lebih gembira. Saat di tanya istrinya.
“Dari mana saja kau suamiku?”
“Apa yang kau lihat?”
“Apa yang terjadi padamu?”
Hitsu Aslan tidak bisa menjawabnya. Setelah di perjalanan dia meminum air dari botol sang penyihir, Hitsu Aslan lupa akan perjalanannya. Yang dia ingat hanya pulang dan keluarga kecilnya di desa Ghuttah.
Panen Rosella di kebun Hitsu Aslan kini melimpah ruah. Kualitasnya juga yang paling baik. Kacang-kacangan di kebunnya juga berlimpah. Hitsu Aslan menjadi orang kaya sekarang, hingga umurnya semakin tua.
Meskipun begitu, sesekali Hitsu Aslan dalam tidurnya memimpikan bocah kecil yang tampan bermain-main dengannya di taman yang begitu indah. Dan ketika bangun dari tidurnya Hitsu Aslan hanya tersenyum-senyum bahagia tanpa tahu apa yang dia impikan tadi.



Saturday, March 11, 2017

Megenal Sinopsis, Blurb, Resensi Dan Review.



Megenal Sinopsis, Blurb, Resensi Dan Review.


  Berhubung pada hari sabtu, 4 Febuari 2017 kemarin AMJ (Akademi Menulis Jepara) membahas tentang Sinopsis, Blurb, Resensi dan Review maka saya sempatkan untuk membuka buku dan berbagai resensi di Mbah "Google" untuk bahan kita belajar kali ini.

Di mulai dari sinopsis. Apa sih sinopsis itu?

Sinopsis adalah ringkasan cerita sebuah karya tulis. Sinopsis itu ibarat pemendekan sebuah karya tulis, tanpa mengesampingkan unsur-unsur intrinsik dalam karya tulis dan tetap memperhatikan keindahan kalimat penulisannya. Sinopsis itu menceritakan cerita secara lengkap. Awal cerita, konflik cerita, peyelesaian konflik. Sinopsis juga menjelaskan secara lengkap siapa tokohnya, karakter tokoh, setting.

Saya pernah di kasih tahu seorang. Biasanya, jika mengirimkan naskah ke sebuah penerbit kita di minta membuat sinopsisnya. Maka jangan sekali-kali kita menyembunyikan salah satu unsur di atas. Karena banyak lho yang begitu, niatnya sih membuat penasaran. Biar bukunya lolos. Tapi hal itu sama sekali salah.

Lanjut ke Blurb. Apa itu Blurb?

Blurb adalah deskripsi promosional (promosi atau selling) yang (biasanya) ada di sampul belakang buku. Isinya bisa saja potongan cerita isi buku, tanpa menceritakan ending cerita. Tren blurb jaman dulu, terlalu banyak mengungkapkan spoiler cerita. Namun sekarang, benar-benar disembunyikan, hanya dibahas sedikit, lalu ditulis dengan sangat cantik untuk menarik konsumen. Blurb bisa juga ringkasan singkat yang biasanya berisi pujian terhadap sebuah karya.

Biasanya banyak yang keliru mengira antara sinopsis dan blurb pada sebuah buku karena letaknya (biasanya) sama-sama berada di belakang sampul buku.


 Next...Resensi.

Apa sih Resensi itu?

Resensi berasal dari bahasa Belanda resentie dan bahasa Latin recensio, recensere atau juga revidere yang artinya mengulas kembali. Resensi adalah suatu penilaian terhadap sebuah karya. Karya yang dinilai dapat berupa buku dan karya seni film dan drama. Menulis resensi terdiri dari kelebihan, kekurangan dan informasi yang diperoleh dari buku dan disampaikan kepada masyarakat. (Sumber: Wikipedia)

Resensi adalah tulisan ini sangat subjektif sekali. Menurut penulis rensensi, buku A bagus. Tapi, bisa jadi menurut pembaca lain buku A jelek. Sederhananya, resensi dapat dianggap sebuah perpaduan antara ringkasan cerita, penilaian, pembahasan, dan kritik terhadap buku. Dan sebagai catatan saja, biasanya kita bisa melihat kemampuan penulisa dari karya yang di resensinya.

Contoh resensi sebuah buku.

RESENSI NOVEL (Harry Potter 7) 

Judul Novel : Harry Potter and The Deathly Hallows
( Harry Potter dan Relikui Kematian )
Nama Penulis : Joanne Kathleen Rowling
Alih Bahasa : Listiani Srisanti
Tahun Terbit : 2008
Nama Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 999 Halaman
ISBN -10 : 979-22-3349-0
ISBN -13 : 978-979-22-3349-0

       Membaca merupakan suatu kegiatan yang mengasyikan bagi sebagian orang tertentu malahan membaca dijadikan sebagai suatu kebutuhan. Namun bagi beberapa orang membaca merupakan kegiatan yang membosankan. Tetapi hal ini berbeda jika kita lihat dari pembaca novel best seller ini. Pembacanya tidak merasa bosan hingga menyelesaikan novel setebal 999 halaman. Ternyata kemauan dan minat pembaca tidak seburuk yang kita duga, saat ini diperkirakan terjadi krisis motivasi membaca di kalangan masyarkat, orang-orang lebih suka menonton atau namun tidak untuk novel yang satu ini.

        Penulis buku ini adalah seorang ibu rumah tangga yang telah melahirkan berbagai buku best seller. Ketujuh novel berserinya mendapat berbagi macam penghargaan dari berbagai negara, sehinga terbitnya novel terakhir ini sangat dinantikan oleh para pencintanya. Novel karya penulis yang jenius ini telah dialih bahahasakan dalam 56 bahasa di seluruh dunia.

        Film Harry Potter and The Deathly Hallows ini berkisah tenatnag Harry Potter, seorang penyihir muda yang merupakan tokoh utama yang berjuang untuk menghadapi musuh besarnya Lord Voldemort / Pangeran Kegelapan (seorang penyihir jahat yang sangat kejam dan ia telah membunuh kedua orang tua Harry). Kau-Tahu-Siapa yang merupakan sapaan khusus untuk Lord Voldemort, penyihir hitam tersebut telah bangkit kembali dan hendak membunuhnya serta mengusai dunia sihir. Setelah Kementrian sihir jatuh ke tangan musuh besarnya Harry pun harus hidup dalam pelarian. Ia hidup dan terus menerus bersembunyi hingga menemukan cara untuk mengatasi masalah ini. Harry di beri tugas oleh Kepala Sekolahnya Albus Dombledore yang telah tiada untuk mencari ketujuh Horucx yang merupakan kunci kematian Lord Voldemort.Ada ramalan yang mengatakan bahwa tidak ada yang bisa hidup diantara keduanya, karena keduanya harus saling membunuh satu sama lain. 

      Di mulailah pencarian Harry bersama kedua sahabatnya Ron Weasly dan Hermione Granger untuk menemukan rahasia yang dimaksud untuk menyelamatkan dunia sihir. Petualangan yang menakjubkan dan fantasis yang mereka alami, dari suka duka, letihnya dalam pelarian yang terus di buru oleh para Pelahap Maut yang merupakan kaki tangan Voldemort, serta misteri-misteri lain yang belum terpecahkan, mengenai apa rahasia di balik Tongkat Sihir Elder, Kematian Ariana, dan kisah misterius Albus Dombledore yang berliku serta kisah relikui kematian antara Harry Potter dan musuh besarnya Lord Voldemort.

       Penulis mampu menceritakan kisah ini dengan jenius, menarik, unik dan sangat mengesankan. Dari kata-kata demi kata yang benar-benar mampu membimbing kita untuk merasakan dunia yang ia ciptakan hingga kita mampu terjun dan masuk ke dalam dunia fantasi yang di paparkan penulis.

       Dari segi terjemahan novel ini sudah memiliki kwalitas yang baik, saat membaca kita tidak merasakan kesulitan karena sudah sesuai dengan Bahasa Indonesia, kita bisa memahami maksud dan tujuan penulis. Selanjutnya mengenai kemasan novel ini sudah di adaptasikan dengan menarik, dari gambaran ilustrator yang melukiskan tokoh utama di cover depan dengan warna kuning genteng yang dipadukan dengan warna hitam yang apik. Novel dengan 2 jenis cetakan ini yaitu hard cover dan soft cover, memang sangat dinanti-nantikan di kalangan pencintanya sejak sebelum hari penerbitan sudah banyak orang yang memesan jauh-jauh hari karena takut ketinggalan seri terakhir novel best seller ini.

      Namun, jika kita tidak pernah dan tidak mengetahui cerita atau dari seri terdahulunya terkadang kita tidak bisa untuk memahami maksud dan tujuan apa yang disajikan oleh penulis, karena banyak terdapat kata-kata maupun istilah yang ditulis penulis tidak kita pahami atau kita ketahui.

Jadi, seseorang akan memdapat kesulitan jika tidak membaca edisi sebelumnya. Belum lagi tebalnya halaman yang menjadi faktor untuk membuat rasa enggan bagi pembaca yang baru mau memulai membaca. Tetapi, jika kita telah membacanya ada dorongan dari dalam diri untuk membacanya hingga selesai karena ketertarikan dengan akhir dan bagiamana cerita selanjutnya dan bagaimana kisah perjalanan mengesankan penyihir muda ini.

        Novel ini cocok bagi anak-anak maupun dewasa, semua kalangan yang memiliki hobi membaca dan ketertarikan pada sebuah narasi yang benar-benar fantasis dan mengagumkan. (Diambil dari sebuah Blog)
 
Nah sudah mengerti gambaran tentang resensi kan shobat AMJ?

Sekarang kita lanjut ke Review.

Sebenarnya review itu sama seperti resensi. Review sendiri adalah bahasa inggris dari makna ulasan, meninjau, ulasan ulang. Jika di Indonesia mengulas memakai kata resensi, kalau di luar memakai kata review. Tapi tetep ada perbedaannya kok.
Perbedaan resensi buku dan review book:
a. Resensi buku lebih simple, sedangkan review book jabaran atau uraiannya lebih luas.
b. Resensi buku menggunakan bahasa jurnalistik, instan (bahasa yang mudah di pahami), sedangkan review book cenderung menggunakan bahasa ilmiah.
c.Resensi buku memberikan penilaian, memberikan kritik, sedangkan review book memahami, mengolah referensi.
d.Dari segi bahasa, resensi buku istilah yang di gunakan dalam bahasa Indonesia, sedangkan review book istilah yang di gunakan dalam bahasa Inggris.
e.Resensi buku tidak mengupas bab per bab, sedankan review book bisa bab per bab.
f. Resensi buku biasanya sering di publikasikan di koran maupun majalah, sedangkan review book di publikasikan di jurnal.
g.Resensi buku tidak memerlukan banyak halaman, sedangkan review book memerlukan banyak halaman.
h.Dari system penataannya resensi buku di tulis dengan menggunakan titik dua (:), sedangkan review book di tulis dalam bentuk alinea.
i. Resensi buku tidak bersintesis kembali, sedangkan review book boleh membandingkan dengan buku yang lain.
j. Resensi buku biasanya memasang gambar bukunya, sedangkan review book tidak memasang gambar bukunya.

Persamaan resensi buku dan review book:

a. Sama – sama mengulas suatu karya berupa jurnal, buku, dan lain sebagainya.
b. Menjelaskan isi gambaran.
c. Sama – sama di publikasikan.
d. Sama – sama membuat ringkasan buku.
e. Memiliki objek yang sama yaitu buku.
f.  Memiliki tujuan memberikan penilaian terhadap suatu buku.
g. Mempromosikan kepada khalayak  yang belum mengetahui karya tersebut. (Di ambil dari Blog)


Nah sekian dari saja. Semoga bermanfaat bagi Sahabat AMJ pada khususnya, dan bagi pembaca pada umumnya.

Inilah 5 Fakta One Piece yang Menarik dan Jarang Diketahui oleh Banyak Orang

Mungkin untuk para pecinta anime, banyak yang sudah mengetahui fakta tersembunyi dari One Piece. Namun, sebenarnya masih ada banyak lag...