Search This Blog

Tuesday, March 7, 2017

Srigala


Penulis: Havidz Antonio

            Gubuk-gubuk di perkampungan kumuh itu hanyalah bendinding kardus, seng dan kayu-kayu seadanya. Begitu sederhana dan ala kadarnya. Sekadar untuk mereka berteduh dari terik matahari, dinginnya malam dan guyuran hujan. Dan ketika malam tiba, kawanan nyamuk telah bersiap-siap mengisap darah penghuninya. Maklum, di sini ada tempat yang yang di jadikan TPA. Bukan tempat penitipan anak melainkan tempat pembuangan akhir. Meskipun belum menggunung-gunung seperti TPA di desa-desa kumuh lain. Namun TPA ini cukup membuat resah warga.

         Kondisi di perkampungan kumuh itu sangat tidak nyaman. Gubuk-gubuk saling jejal. Tak ada halaman apalagi taman. Tak ada tumbuhan-tumbuhan besar yang men-suplay udara segar. Semuanya serba sempit, pengap dan bau.

            Pekerjaan warga di perkampungan ini hanyalah sebagai buruh-buruh kasar. Meski sudah bekerja siang-malam tak kenal lelah. Namun nasib tak kunjung berubah. Pangkat tak pernah naik. Lho? Memang mau naik ke mana? Naik ke jembatan sungai seperti yang dulu pernah di lakukan salah seorang warga.

Ya. Seorang warga. Seorang lelaki paruh baya yang karena tidak kuat menanggung beban hidup yang selalu susah. Dia nekat terjun ke sungai. Mayatnya hanyut di bawa arus. Innalillahiwainnalillahiroji’un...

--0--
           
Ketika warga perkampungan kumuh itu sedang menjalankan aktifitas seperti biasanya, tiba-tiba mereka di kagetkan oleh suasana gaduh dan kacau.

            “Robohkan gubuk-gubuk itu. Jangan ada yang tersisa. Ini perintah dari atasan.”

            Petugas-petugas Tramtip bermunculan di iringi dengan dua traktor besar. Mereka menjalankan tugas dari penguasa setempat untuk melakukan penggusuran di perkampungan kumuh itu. Hal itu dilakukan dengan alasan untuk pembuatan TPA yang lebih baik, yang telah di progamkan pemerintah. Memang, sebelumnya sudah pernah diadakan konfirmasi mengenai penggusuran ini. Namun saat di tanya nasib warga selanjutnnya, pemerintah bungkam. Warga enggan pindah karena memang tak punya tempat tinggal lain.

            Suasana panik segera manyelimuti perkampungan kumuh itu. Segera warga menyelamatkan barang-barang mereka. Mereka menyelamatkan apa saja yang bisa di selamatkan. Tidak ada perlawanan karena Tramtip datang secara tiba-tiba dan dalam jumlah yang sangat banyak.

            Di tengah-tengah keributan itu, Nurmi, gadis kecil berusia 9 tahun, salah sau penduduk di perkampungan itu, tetap tenang mengais-ngais sampah di TPA untuk mencari mainan-mainan bekas. Nurmi tidak mendengar kegaduhan-kegaduan di sekitarnya karena dia memang tuli. Dia terus mengais-ngais sampah.

            Nurmi kaget dan panik ketika dengan tiba-tiba tumpukan sampah longsor. Nurmi mencoba menghindar supaya tidak tertimbun, namun kakinya tersangkut sesuatu dan dia langsung terjatuh. Dia berteriak-teriak minta tolong namun tak ada satupun ada yang mendengar. Bukan hanya karena suasana yang sangat gaduh sehingga tak ada satupun yang mendengar teriakannya, namun lebih di sebabkan karena dia bisu. Yah, dia tuli dan bisu.

***

            Di sebuah gudang beras, Adam mendengar kabar kalau kampungnya sedang di gusur. Dia segera lari tunggang langgang, pulang. Ketika sampai, dia sangat terkejut melihat kampungnya telah remuk seperti habis di babat angin beliung yang sangat dahsyat.

            Dengan cemas Adam berlari di antara orang-orang yang masih ribut karena kejadian penggusuran tadi. Dia pun menemukan rumah gubuknya telah rata dengan tanah. Dan lebih dari itu semua, dia sangat gelisah karena tak menemukan Nurmi, adik semata wayangnya yang tuli dan bisu. Adam mencari Nurmi kesana-kesini, bertanya kemana-mana, namun dia tidak berhasil menemukan Nurmi.

            Adam hanya bisa bersimpuh, meratap dan menangis. Dia merutuki nasib yang tidak  pernah baik kepadanya. Dia sudah kehilangan ibunya ketika melahirkan Nurmi. Andai saja waktu itu mereka punya uang untuk pergi ke rumah sakit, hal itu tak kan terjadi. Posisi bayinya sungsang, dukun bayi tak bisa menyelamatkan nyawa sang ibu karena pendarahannya benar-benar parah.

            Tidak sampai di sini musibah yang menimpa keluarga Adam. Untuk kedua kalinya dia harus kehilangan orang yang di kasihinya. Ayahnya stres berat karena kehilangan sang istri. Juga karena ekonomi yang tak kunjung membaik. Hal itu membuatnya sakit-sakitan. Sementara keuangan mereka sangat tidak mencukupi untuk berobat ke dokter. Pada akhirnya si ayah bunuh diri dengan terjun dari atas jembatan. Adam tentu saja sangat terpukul jiwanya. Dia resmi menjadi yatim piatu. Namun Adam tidak mau berlarut-larut dalam kesedian. Adam berusaha bangkit karena dia harus menghidupi diri dan Nurmi yang ketika itu masih berumur 4 tahun.

            Dan sekarang dia kehilangan Nurmi, satu-satunya yang dia miliki sekarang. Dia tidak tahu harus mencarinya kemana lagi. Adam menangis sesenggukan. Menggerutui nasib. Memaki-maki pemerintah yang telah memusnakan rumahnya. Dia geram sekali dengan pemerintah yang seenaknya sendiri itu.

            Dalam keputus-asaannya mencari Nurmi, dia teringat bahwa dia pernah bermimpi tentang seekor srigala. Srigala itu muncul dari tumpukan sampah. Srigala dalam mimpinya itu tidak berbulu putih, cokelat ataupun hitam. Namun serigala itu memakai jas dan berdasi. Srigala itu melolong-lolong sebelum akhirnya menerkam Nurmi yang ketika itu sedang bermain dan membawanya kembali ke dalam tumpukan sampah.
            Adam sangat geram dengan srigala itu. Sama geramnya dia kepada yang telah merobohkan kampungnya itu yang bukan lain adalah pemerintah yang seenaknya sendiri itu. Dia memaki-maki dan melontarkan sumpah serapah, namun hanya angin yang meresponnya.

            Kemudian Adam melangkah lunglai menuju TPA dengan air mata kesedihan yang teramat.






Sunday, March 5, 2017

Jadikan Aku Preman



Aku di lahirkan dari sebuah keluarga berada. Sejak kecil hidup enak, semua ada. Dan aku anak tunggal. Semua keinginanku terkabul. Ayahku pejabat negara, sementara ibuku mantan seorang model terkenal. Dulu aku mengira kehidupan keluargaku baik-baik saja. Walaupun ayah jarang pulang ke rumah kami yang sangat megah. Hingga lama-lama setelah aku cukup dewasa, aku tahu bahwa ibu hanyalah wanita simpanan ayah. Lelaki yang kupanggil ayah itu mempunyai istri lain dan anak-anak lain. Rumah yang mereka tempati bahkan jauh lebih megah daripada yang kami tempati sekarang.
Saat aku kelas 5 Sd ayah jarang sekali pulang. Seminggu kadang sama sekali tidak pulang. Dan ketika pulang, sering kali kudengar ibu dan ayah bertengkar. Lalu ayah pergi lagi. Pulang lagi. Bertengkar lagi. Hingga sama sekali tidak pernah pulang. Dan kabar yang kudengar ayah telah di perjara karena kasus korupsi. Rumah kami yang megah di sita. Dalam sekejap hidupku berubah.
Kemudian ibu menyewa apartemen untuk kami tinggali. Namun belum ada 3 bulan kami sudah pindah dari apartemen ke sebuah kontrakan yang kecil dan sempit. Ibu tak punya cukup uang lagi untuk menyewa apartemen yang mahal. Hidup kami serba kekurangan sejak saat itu. Aku tidak lagi sekolah. Aku menghabiskan waktu bermain dengan anak-anak sekitar kontrakan. Berbeda dari teman-temanku dulu yang bersih, rapi dan bermain dengan mobil-mobilan mahal, teman-temanku di lingkungan ini sangat kotor dan mainan termahal kami hanya sepak bola.
Ibu jadi jarang di rumah sejak kami tinggal di kontrakan. Katanya, dia bekerja. Bekerja apa aku tidak ambil pusing. Banyak selentingan kabar ibuku menjadi wanita malam. Aku tidak tahu wanita malam itu bekerjanya seperti apa karena waktu itu aku masih kecil. Aku senang ketika ibu pulang bekerja selalu ada makanan enak untuk kumakan. Sering juga ada om-om datang ke kontrakan kami. Ada om-om yang baik yang membawakanku buah-buahan dan mainan, tapi ada juga om-om yang memandangku tak suka.
Ada satu om yang sering sekali datang ke kontrakan dan mengajak ibu keluar. Om itu memakai mobil mewah berwarna silver. Lambat laun aku tahu namanya om Andrea. Dia orang Australia. Orangnya tak begitu suka denganku dan aku pun sama tak suka padanya. Aku benci orang itu karena sejak ada orang itu ibu jadi jarang sekali pulang ke rumah. Dan karena dia pula ibu tega meninggalkanku di panti asuhan.
“Dengarkan ibu, Davi. Ibu tidak meninggalkanmu selamanya. Ibu akan sering menjengukmu. Nanti kalau sudah waktunya kita akan tinggal bersama-sama lagi. Untuk sementara kamu tinggal di sini, ya, Nak. Kamu akan punya banyak teman di sini” kata ibu lalu pergi meninggalkanku.
--0--
Kenyataannya banyak yang tidak menyukaiku di panti asuhan ini, bahkan ibu-ibu pengasuh pun tak menyukaiku. Mereka tahu aku anak dari koruptor. Hanya karena sumbangan dari ibu aku di perbolehkan tinggal di sini.  
Aku mulai kembali sekolah seperti dahulu. Itu sedikit mengobati rasa stress ku di sini. Tapi lama-lama aku tak tahan juga. Aku menjadi nakal. Aku sering mengacau di kelas dan di panti. Mereka menghukumku. Mereka mencibirku. Dan aku tak ambil pusing. karena dengan kenakalanku itu aku mendapatkan kepuasan tersendiri.
“Dasar anak koruptor, pantesan nakal kayak setan” seorang anak gendut tiba-tiba mengatakan itu. Kudatangi dia lalu aku memukulnya sampai giginya copot. Dia menangis menjerit-jerit. Akibatnya, aku di keluarkan dari panti. Sejujurnya aku malah senang sekali bisa bebas dari tempat sialan ini. Namun, ternyata habis keluar dari kandang ini ibu malah memasukanku ke pesantren.
Tinggal di pesantren sangat tidak menyenangkan. Walaupun di sini banyak orang yang baik terhadapku namun aku tidak suka dengan tempat ini. Isinya hanya mengaji, mengaji dan mengaji. Di sini, subuh sudah harus bangun, padahal dulu waktu aku masih tinggal di rumah yang mewah aku tak pernah bangun subuh. Aku tak tahan tinggal di pesantren. Aku berusaha kembali berulah seperti waktu di panti, namun di sini peraturannya  sangat ketat. Kenakalanku hanya berbuah hukuman-hukuman dari pengurus pesantren.
Setidaknya di tempat ini aku mempunyai teman, Joe dan Rahim. Sama sepertiku mereka juga tidak suka tinggal di pesantren. Kami sering bolos sekolah dan mengaji. Kami pergi ke warung remang-remang. Memesan kopi, merokok dan main remi.
“Tak tahan lagi aku di pesantren, aku ingin bebas. Aku ingin hidup di jalanan saja,” kataku pada mereka.
“Kamu mau hidup di jalanan? dulu aku hidup di jalanan. Aku bisa membantumu Dav,” kata Joe. Lalu dia bercerita kalau dulu sebelum di pesantren dia hidup sebagai pengamen jalanan. Dari ceritanya itu aku mendapatkan bayangan jika hidup seperti itu akan membuatku nyaman. Aku sudah muak dengan semua ini. Aku tidak peduli lagi baik atau salah. Aku menguatkan tekadku keluar dari pesantren. Joe memberiku sebuah alamat. Katanya dulu dia tinggal di situ bersama Bang Ipung dan teman-teman jalanan yang lainnya. Bang Ipung katanya adalah preman yang di takuti banyak orang.
Diam-diam aku kabur dari pesantren. Aku mencari alamat yang di berikan Joe. Alamat itu menuju ke sebuah perkampungan kumuh dekat rel kereta api. Tak mudah mencari alamat ini hingga ku temukan, entah aku harus menamakan ini gudang atau rumah atau gubuk dan aku bertemu seorang lelaki berbadan tegap , berambut gondrong dan memiliki tato kalajengking di pangkal lengannya. Wajahnya galak dan kasar, dia melotot kepadaku membuatku takut.
“Siapa lu? Ngapain ke sini? Mau cari mati?” katanya galak.
Sambil tergagap aku menceritakan tentang Joe. Dia manggut-manggut kayak ayam berjalan.
“Bang, jadikan aku preman ?”
--0--
Bang ipung ketawa dan aku merasa itu pertanda buruk. Aku bisa saja langsung di gebuki preman ini. Untuk apa dia repot-repot meladeniku, orang yang tak di kenal. Namun ternyata aku salah. Dia membelai rambutku. Awalnya aku risih namun ternyata itu membuatku nyaman. Aku bisa langsung terbuka  padanya. Aku menceritakan semua masalahku, semua yang kurasa sangat berat ku jalani.
“Di sini lu akan menemukan kedamaian” kata bang Ipung,
Sejak hari itu aku numpang tinggal di sini. Aku di kenalkan dengan teman-teman pengamen. Aku pun mulai mengamen. Uang hasil mengaen sebagian kuserahkan buat Bang Ipung untuk biaya listrik dan makan sehari-hari, sebagian lagi untuk aku membeli rokok. Setiap hari begitu terus. Dan lama-lama aku mulai ‘ngelem’. kata mereka dengan ‘ngelem’ bisa meringankan beban hidup yang keras. Memang benar. Ketika aku menghirup benda ini aku merasa beban hidup dan kekecewaan terhadap semua yang kujalani ini terasa ringan.
Tidak hanya ‘ngelem’, jika ada duit lebih aku membeli pil seperti megadon, rohipnol, koplo atau BK. Bang Ipung mengajariku melakukan semua hal itu. Sejak mengkonsumsi pil-pil itu aku menjadi cepat marah. Suka berbuat seenaknya sendiri. Suka linglung. Suka menguap dan jika tak mengkonsumsi pil-pil itu badanku rasanya pegal-pegal panas dingin.
Dari teman-teman sesama pengamen aku tahu efek dari obat-obatan itu sangat buruk. Namun aku sudah tidak peduli lagi. Mau mati sekarang atau besok sama saja. Dunia ini bagiku sudah begitu tak enak lagi di huni.
Namun, suatu malam ketika aku pulang dari mengamen Bang Ipung menarik paksa tubuhku ke dalam rumah . Aku mengira dia mencari uang yang aku sembunyikan di dalam celana dalam. Aku sudah bilang semua uang yang kudapat sudah kuberikan padanya. Namun dia tetap melucuti pakianku. Dan ternyata dugaanku salah. Dia bukannya sedang mencari uang, aku tiba-tiba merasa sesuatu memasuki duburku. Rasanya sakit sekali. Bang ipung mendekapku kuat sekali dan membekap mulutku. Aku ingin berteriak minta tolong. Namun tak ada yang keluar dari mulutku karena dia membekapku sangat kuat sampai mulutku berdarah. Bang ipung kesetanan dan mendesah-desah kayak babi. Kemudian dia berhenti melakukan itu setelah kudengar rintihan senangnya yang membuatku muak.
Dia meninggalkanku tanpa mengucapkan sepatah katapun, Dia langsung mendengkur di kamarnya yang kayak kandang ayam. Aku hanya bisa menangis sambil memakai lagi pakaianku. Aku tak rela di perlakukan seperti itu. Aku benci sekali dengan preman bangsat ini. Aku berniat membalas perlakuannya ini. Dia mungkin mengira aku tak berani. Tapi dia salah sangka kalau mengira seperti itu.
Aku melihat bekas botol bir tergeletak, ku ambil benda itu. Bang Ipung tergeletak ngorok seperti mayat. Dengan kebencian yang teramat dan tanpa ragu sedikitpun kupukulkan bekas botol bir ini ke kepala manusia brengsek di depanku ini. Dia bangun dan mengerjap-ngerjap kesakitan. Botol bir pecah, kepalanya berdarah. Dia menjerit-jerit kesakitan. Belum puas ku ambil kursi kayu kecil yang sudah reyot.  Ku hantamkan berkali-kali sampai dia tak lagi menjerit. Aku tiba-tiba mulai panik namun tak kurasa rasa penyesalan sedikitpun. Ku lihat dia masih bernapas tapi tak sadarkan diri. Lebih baik aku cepat pegi dari sini sebelum anak buahnya yang lain datang kesini. Aku lari pontang-panting sejauh mungkin dari tempat ini.
Aku harus mencari tempat sejauh mungkin dari tempat tinggal Bang Ipung. Kabar tentang keadaannya akan cepat tersebar dan anak buahnya akan mencari dan membunuhku. Aku tak tahu apakah orang itu mati atau masih hidup. Aku berharap dia mati saja
--0--
Sudah lima hari sejak kejadian malam itu dan kini aku terlunta-lunta dan kelaparan. Aku makan apa saja yang bisa kutemukan dan minum air sebanyak-banyaknya jika aku menemukan kran air. Aku tidur di depan-depan toko atau minimarket. Kadang jika beruntung ada orang yang memberiku sebungkus nasi rames.
Dan buruknya hidupku ternyata tak sampai di sini saja. Saat aku sedang berjalan lunglai karena kelaparan. Dua orang menyeretku ke sebuah gang yang sepi. Aku melihat mereka. Sepertinya aku kenal. Yah, mereka adalah anak buah Bang Ipung. Aku rasa dengan tenaga yang seperti ini aku tak kan sanggup melawan mereka. Kematianku sudah dekat. Mereka menggebukiku tanpa ampun. Aku sudah tak punya tenaga lagi untuk berteriak. Kulihat samar-samar bentuk yang menjijikan seperti setan –kurasa itu benar-benar setan- tertawa-tawa mengejekku. Aku ingin marah tapi percuma saja. Apa yang bisa kulakukan? Mungkin mati akan lebih baik. Cepatlah matikan aku…
Dan aku rasa aku memang sudah mati. Aku tak sadar lagi.
--0-- 
Aku membuka mata. Kesadaranku perlahan pulih. Apakah ini surga? Ah, mana mungkin. Aku kok di tempatkan di surga itu sama sekali tak mungkin. Kalau ini neraka aku baru percaya. Tapi neraka kok tak seperti kata orang-orang, ya? Tak ada api. Tak ada malaikat yang menyiksa. Tak ada teriakan-teriakan kesakitan. Yang ada malah selang infus yang nempel di tanganku. Dan beberapa orang berpeci. Aku malah bingung.
“Di mana aku? Ini neraka? Siapa kalian?”  aku bertanya. Aku rasa pertanyaanku barusan terdengar seperti desahan saking lemahnya aku.
“Tenanglah, Dik. Kamu aman di sini. Kami menemukanmu di keroyok dua preman. Saat kami mengusir preman-preman itu kamu sudah tak sadarkan diri. Lalu kami membawamu ke puskesmas ini ” kata seorang di antara mereka. Orang itu nampak paling tua di antara yang lain.
 “Jadi aku belum mati? Sial… padahal aku lebih suka kalau aku mati saja.”
Serentak mereka kaget dengan ucapanku.
“Astagfirullah, istigfar dik. Hidup itu anugerah, Dik."
“Tapi tidak untuk aku.”
Orang yang paling tampak tua itu menatap teman-temannya satu persatu. Mereka mengangguk-ngangguk lalu satu persatu meninggalkan kami berdua.
“Kalau adik berkenan adik bisa menceritakan semua yang adik rasakan kepada saya. Nama saya Hasyim,” kata orang itu lembut sekali di telingaku.
Aku ragu untuk menceritakan semuanya. Hasyim berkata dia tak kan memberitahukan kepada siapun dan dia juga tidak memaksaku. Kata-katanya lembut membuatku akhirnya bercerita. Ku tumpahkan semuanya kepada Hasyim. Air mata pun meleleh. Aku tak kuasa menahan semua ini sendiri. Dalam lubuk hatiku aku ingin kembali ke kehidupan kecilku yang dulu. Aku ingin seperti orang lain yang mempunyai keluarga utuh. Aku ingin kembali sekolah. Aku ingin berbuat baik kepada sesama.
“Tak perlu kamu bersedih lagi, Dik. Sekarang kamu punya keluarga baru. Jika kamu berkenan tinggalah bersama kami. Kami akan dengan senang hati menerimamu sebagai keluarga.” kata Hasyim. Hasyim menyakinkanku bahwa aku harus kembali ke kehidupan yang lurus.
Kemudian Hasyim bersama teman-temannya sering menjengukku. Mereka juga membawakan makanan-makanan enak. Mereka menceritakan lelucon yang banyak mengandung nilai kebaikan. Mereka juga menceritakan tentang diri mereka. Ternyata mereka banyak yang berasal dari keluarga broken home juga. Dan mereka senang tinggal di tempat mereka sekarang, yang ternyata adalah LSM yang di donaturi orang-orang yang peduli terhadap kami. Mereka juga meyakinkanku bahwa aku akan senang tinggal bersama mereka. Mereka bilang bahwa aku sudah menjadi bagian dari mereka. Aku jadi tidak sabar untuk cepat pulih dan memulai hidup yang baru. Aku ingin menjadi orang baik lagi karena sekarang aku mempunyai orang-orang yang menyayangiku.
Aku mungkin telah menemukan rumahku kembali.

Penulis,
Havidz Antonio

Komunitas Pokerman Jepara

Happy Anniversary Pokerman Jepara Yang Ke 2

     pagi ini di warung makan Srikandi Jalan Thamrin nomor 12 (depan Kel. Panggang) Jepara tampak ada yang berbeda. Sebuah banner besar sudah nangkring di atas pintu masuk. Di dalamnya sudah banyak orang dan berbagai aksesoris ulang tahun terpasang meriah. Ada apa gerangan hari ini?


       Yup! Ternyata hari ini Komunitas Pokerman Jepara sedang merayakan hari ulang tahunnya yang ke 2.

       Di pagi yang cerah itu berbagai acara telah di siapkan oleh panitia untuk memeriahkan acara. Sekitar pukul sepuluh pagi acara pun di mulai. Acara Pertama adalah pembukaan yang dipandu oleh Mc-Mc kocak

  
Paijo dan Lia mulai beraksi
.
      Acara selanjutnya di lanjutkan doa. Mas Udin yang biasa di panggil Mas Gendut Pun mulai melantunkan doa.

 
Mas Udin Mulai memimpin doa.
      
       Kemudian acara selanjutnya adalah sambutan. Sambutan di sampaikan oleh sang ketua Mas Pay, alias Mas Paijo. Dalam sambutannya Mas Paijo mengatakan banyak terima kasih atas kedatangan teman-teman baik dari Pokernan pribadi maupun dari tamu-tamu undangan seperti dari Komunitas Blog Jepara, Komunitas Pendaki Amatir, Komunitas Ngluyur Mania, Combo Community dan masih banyak lagi.  
      
      Mas Pay juga bercerita awal mula bagaimana Pokerman Jepara bisa terbentuk. Bermula dari sekumpulan pemuda-pemudi yang sering ngumpul di alun-alun Jepara untuk main sepatu roda dan biasanya di lanjutkan bermain poker. Lalu suatu hari ada keinginan untuk membuat baju bersama. Karena bingung di namai apa, maka sebulan kemudian munculah ide nama Pokerman. Pada tanggal 3 Maret 2015 Pokerman resmi berdiri.

Keceriaan bersama itu indah.
      Acara selanjutnya, pemotongan kue ulang tahun dan nasi tumpeng. Saat acara ini berlangsung hujan tiba-tiba turun. Meski begitu, semangat peserta acara tetap membara. Semangat ndann.....


Bu Susi memotong nasi tumpeng

Senyum Cha... 
Sikat Dek Likha 
Seng wareg yo BOSS mangane......
  
      Selesai acara pemotongan kue ulang tahu dan nasi tumpeng di lanjutkan istirahat. Acara istirahat di isi dengan makan-makan. WAH.. POKOKE WAREG...

Sambil makan tetap "Cekrik"'
Do mangano aku tak dolanan Hp sek.....haha


        Waktu istirahat usai, acara di lanjutkan dengan lomba-lomba (bukan lumba-lumba lho Bos)


         Ada tiga lomba yang dipertandingkan: 1. Lomba main poker 2. Lomba mengurutkan kartu 3. Lomba Karaoke.

        Saat perlombaam ada sedikit masalah datang. Listrik mati Cuy... Sabar... Acara tetap berjalan ceria.
Lomba Main Poker. Semangat Gengs......

Lomba Meng-Urutkan Kartu

Lomba Karaoke. Goyangg Chinoo.... 
       

Koyok ngitung utang Mas?


             Setelah semula lomba selesai, juaranya pun diumumkan.


Lomba main poker juaranya :
1. Sholeh
2. Luna
3. Misbah

Lomba meng-urutkan kartu
1. Sholeh 
2. Hariri
3.Saep

Lomba Karaoke :
1. Saep
2. Misbah
3. Payjo
4. Antok

       Selamat buat para pemenangnya..... 

       Tiba pada acara puncak. Sebelum penutupan acara berlangsung, lagu-lagu dangdung digoyang. Kemeriahan acara tambah seru. Semoga dengan adanya acara ini Pokerman makin sukses kedepannya. Makin solid. Makin bermanfaat untuk masyarakat. amin. 

Goyannggggg

Pokok e foto....... (tebak, penulis yang mana?)

Dari komunitas pendaki amatir.... (Depan: Mas Hariri)


Ucapan teman-teman untuk Pokerman

Wish U all the best Pokerman (Ciput)


Pokerman solid terus, ya. (Selamet Mamel)

Turut mengucapkan Happy Annyversary to Pokerman ke. 2 (PA.J)

Happy anniversary Pokerman, selalu jaya (2th) (Ham and Ria)
Selamat ulang tahun untuk Pokerman Jepara.
Tambah kompak. Tambah Jaya. Tambah joss pokoknya.
My Trip My Tafakkur.
Dalam suatu komunitas memang perlu adanya kekompakan
untuk bisa lebih baik. Juga perlu adanya sikap saling menghargai


Harapannya untuk Pokerman Jepara, semoga semakin kompak
dan bermanfaat bagi masyarakat (Leli)


Happy Annyversary 2nd Pokerman Jepara
"Semoga membernya jangan berhidung pesek :-P , peace"





TERIMA KASIH  SEMUA.

Wednesday, March 1, 2017

Sriya Cafe, Home Stay And Family Resto



Sriya Cafe, Home Stay And Family Resto Jepara

Bingung cari tempat asyik dan nyaman buat nongkrong bareng pacar, teman, keluarga atau sendirian aja? 

Gak usah bingung deh, saya rekomendasikan tempat yang satu ini buat kamu, yuk simak, dijamin gak bakal nyesel.

Mengusung tema tradisional khas Jawa dengan kemasan modern, Sriya Cafe & Homestay - Family Resto selalu menawarkan pengalaman tak terlupakan bersantap ria, nongkrong, mengadakan even seperti ulang tahun, rapat, gathering atau sekadar bersantai - santai. 

Berdiri sejak 10 Juni 2014, Sriya selalu mengutamakan kenyamanam dan kepuasan komsumen dengan pelayanan yang ramah bersahabat, tempat yang terus diinovasi serta makanan dan minuman yang bikin lidah berdecak nagih, tentunya dengan harga yang sangat bersahabat

Lokasi                 : Jalan Kusumo Utoyo, Belakang Bank Jepara Artha
Jam Operasional : 11 siang sampai 11 malam
                      11 siang sampai 12 malam khusus Malam Minggu

Ngumpul bareng temen - temen atau keluarga, seru abis


Asyik banget buat selfie dan foto-foto.


Food And Beverage Sriya Cafe & Homestay - Family Resto

Di Sriya Cafe & Homestay - Family Resto kamu bakal bisa menemui segala jenis makanan dan minuman yang pasti maknyuuss, mulai dari traditional food, western food  bahkan chinese food bisa kamu nikmati dengan harga yang sangat terjangkau.

Pun dengan minumannya, segala jenis minuman mulai dari jus, es cream, kopi, mocktail bahkan es kelapa muda bisa kamu cicipi di sini Eeitss...ada tapinya lho, no cocktail, no alkohol.m, keren banget kan.

Berikut adalah beberapa contoh makanan dan minuman yang recomended banget buat kamu cicipi


Sego Wiwit Khas Sriya


Sego Wiwit adalah makanan yang identik dengan Dewi Sri (sesuai nama Sriya, nanti saya akan bahas tentang hubungan Sriya dan Dewi Sri) Masyarakat Jawa zaman dahulu setelah panen padi (atau hasil bumi yang lain) biasanya mengadakan makan - makan sebagai bentuk rasa syukur kepada Dewi Sri, nah makanan yang disantap itulah yang di namakan Sego Wiwit

Sego Pulau Panjang

 


Duh, denger namanya aja langsung ingat suatu tempat, apalagi kalau bukan salah satu pulau kebanggaan kota Jepara Pulau Panjang, Sriya memang inovatif banget kan


Nasi Raja Sriya




Wedang Empon - Empon



Wedang Mendem Kangen




Sriya Entertaint Performing 

Nggak hanya memanjakan dengan makanan, minuman dan tempat yang unik, Sriya juga memanjakan pengunjungnya dengan hiburan - hiburan yang sangat nggak bosenin, menarik abis, bikin Mager dari Sriya

Jadwal Entertaint Sriya Cafe & Resto

Malam Selasa : Oldiest ( lagu-lagu tembang kenangan ) with Fina & Amor

Malam Jum'at : Indonesian Hits with The Gentleman

Malam Sabtu : Friday Fun with D' Rain Acoustic & Stand Up Comedy - Mario & Friend

Malam Minggu : Billboard Top 40 with The Gentleman


The Gentleman Perform



Asal muasal nama Sriya

Suatu kehormatan bagi saya bisa mewawancarai Om Owner Sriya (saya manggilya Om saja :-D ). Dalam suasana santai seperti itu yang terlintas dibenak saya untuk ditanyakan pertama kali adalah nama Sriya, mengapa Om Owner menamakan Cafe ini dengan nama Sriya

Ternyata nama Sriya mengandung makna besar lho... Menurut Om Owner dalam menamai tempat usaha ada baiknya yang mengandung makna yang baik, tidak asal - asalan dan penuh doa, seperti nama Sriya

Sriya berasal dari nama Dewi Sri. Dewi Sri atau Dewi Shri (Bahasa Jawa), Nyai Pohaci Sanghyang Asri (Bahasa Sunda), adalah Dewi Pertanian, Dewi Padi dan Sawah, serta Dewi Kesuburan di Pulau Jawa dan Bali. Dewi Sri sering digunakan sebagai perlambangan kesuburan, kemakmuran dan keberkahan hasil bumi. Nah, harapan Om Owner menamai tempat usahanya dengan Sriya (Dewi Sri) adalah semoga Sriya selalu di berkahi oleh kemakmuran dan keberkahan untuk semuanya



Patung Dewi Sri dulu saya kira patung ini sosok Ratu kalinyamat lho, ternyata bukan...hehehe...


Sriya Homestay

Harga yang di tawarkan Sriya Homestay sangat bersahabat lho. Hanya dengan Rp. 225.000,- kamu bisa menikmati kamar yang nyaman. Free Welcome Drink, Wifi, Breakfast dan banyak lagi kenyamanan yang di suguhkan



Inilah 5 Fakta One Piece yang Menarik dan Jarang Diketahui oleh Banyak Orang

Mungkin untuk para pecinta anime, banyak yang sudah mengetahui fakta tersembunyi dari One Piece. Namun, sebenarnya masih ada banyak lag...